Temmar : Semua Indikator Ketertinggalan Ada Di Maluku

Temmar : Semua Indikator Ketertinggalan Ada Di Maluku

Ambon, Berita Demokrasi Maluku

Mantan Bupati Maluku Tenggara Barat (MTB) Kamis (6/7-2017) mengembalikan berkas sekaligus mendaftarkan diri sebagai bakal calon gubernur ke parati Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Datang bersama tim suksesnya Bitzael Silvester Temmar menggunakan kemeja putih dan celana berwarna abu-abu.Temmar di terima oleh Ketua DPD Gerindra Hendrik Lewerissa didampingi sejumlah pengurus partai Gerindara di Kantor DPD Gerindra Depan MCM Passo Ambon.

Usai melakukan pengembalian berkas Temmar kepada para kuli tinta mengatakan, “saya mau bilang bahwa saya serius maju dalam Pilkada Gubernur 2018-2023”.” Hari ini saya telah mengembalikan bekas ke partai Gerindra, itu menandakan bahwa saya serius maju sebagai calon gubernur Maluku. “10 tahun saya telah membangun daerah saya MTB,  dan saat ini saya maju sebagai calon gubernur Maluku”. “Kenapa saya maju, karena saya ingin mengabdikan diri saya untuk membangun Maluku.

“Seluruh indikator ketertinggalan ada di Maluku, baik itu kemiskinan, jumlah pengagguran,  dibidang kesehatan, dibidang pendidikan semuanya ketertinggalan ada di Maluku. Padahal Maluku sudah merdeka selama 72 tahun,  daerah ini , salah diurus  karena itu,  Maluku masih seperti ini di ke – 72 tahun Indonesia Merdeka.

Apa yang sudah saya lakukan  di MTB, akan saya lakukan untuk Maluku. Membangun fasilitas kesehatan yang memadai lengkap dengan dokter yang benar-benar dibutuhkan, buat rumah tunggu atau puskesmas rawat inap di masing-masing kecamatan,   membuat pos pelayanan terpadu di tingkat desa, dimana 4 (empat) atau 5 (lima) desa memiliki 1 (satu)  pos pelayanan terpadu,  untuk melayani orang sakit yang tidak bisa ditangani oleh puskesmas desa,  seperti yang sudah saya lakukan di MTB. Dengan demikian akan mengurangi jumlah kematian,  karena di pos-pos terpadu tersebut sudah  dokter ahli yang siap menangani para pasien sesuai dengan tingkat penyakit mereka.

Menurutnya, Kalau memang harus rujuk maka dirujuk ke kecamatan atau ke rumah sakit daerah dan selanjutnya. “Jadi sebelum mereka sampai ke kecamatan mereka telah ditangani ditingkat pos terpadu, kata Temmar.

Lebih jauh Temmar katakan, kita berpolitik haruslah bukan untuk mencapai kekuasaan semata tapi apa yang dikatakan oleh tokoh Maluku J. Leimena bahwa politik bukan alat kekuasaan tapi politik adalah etika melayani.

Ini yang harus ada di  kepala setiap pemimpin, karena dengan demikian maka pemimpin itu akan melayani rakyat bukannya untuk dilayani seperti apa yang terjadi saat ini.

Ketika jadi pemimpin bukannya melayani tapi membangun  keluarga hebat. Artinya hanya keluarga semata yang dibuat menjadi hebat,

Kalau papa jadi gubernur/ Bupati/walikota     istri kemudian urus proyek, istri jadi anggota DPRD, anak yang tak berkualitas juga jadi anggota DPRD, kakak/ adik jadi kadis, Ini ketidakwajaran yang terjadi di Maluku saat ini.    Ini nepotisme yang harus dirobah di Maluku supaya semua orang punya kesempatan.

“Yang berkualitas yang didorong bukan yang keluarga tak punya kemampuan di dorong,” katanya. Kita semua orang Maluku harus merobah ini, kita bolehlah ciptakan keluarga hebat tapi jangan lagi urus ini dan itu di Pemda, Urus yang lain saja atau pekerjaan pelayanan masyarakat yang harus diurus bukan untuk memperkaya diri dan keluarga  (D-02)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *