Kelompok Mujahidin Maluku Deklarasi Lepas Dari JAD/ISIS

Ambon, Berita Demokrasi Maluku .

PAHAM Radikalis’me di Indonesia memang harus diminimalisasi, biar perlu ditiadakan sama sekali. Sangat positif jika hal itu muncul dari kesadaran pribadi-pribadi yang tergabung dalam kelompok-kelompok radikalisme itu sendiri, baik itu Jamah Ansharut Daulah (JAD), Al-Qaida maupun ISIS. Sebagaimana yang terjadi di Ambon, Provinsi Maluku. Di Waiheru, Kamis, 4 Oktober 2018 kemarin, kelompok Mujahidin Maluku yang beranggotakan 17 orang mendeklarasikan diri terlepas dari kelompok-kelompok radikalisme, baik itu JAD, Al-Qaida maupun ISIS. Salah satu yang mendorong kelompok ini mendeklarasikan diri karena mereka merasa kelompok JAD/ISIS tersebut tidak sepaham dengan pandangan islam yang sesungguhnya baik di lingkungan masyarakat maupun pemerintah RI sehingga otomatis opini yang berkembang di kalangan masyarakat dan pemerintah juga menjadi tidak baik. Ustad Sulaiman Djogja dalam Ta’lim di rumah Muhammad Yusran, salah satu anggota kelompok ini, mengungkapkan paham radikalisme bukanlah ajaran islam karena islam mengajarkan tentang kasih sayang dengan semua umat beragama atau (toleransi umat beragama). Ustad mengimbau agar 17 anggota kelompok yang menamakan diri sebagai Mujahidin Maluku ini kembali menjadi warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang baik dengan berlandaskan hukum agama islam yang benar sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW dan berpegang teguh kepada Alquran dan Assunah. Dalam Ta’alim itu terungkap kelompok yang saat ini dikoordinir oleh Muhammad Rusdi ini terbentuk sejak kerusuhan Maluku tahun1999 lalu. Dalam perkembangannya, kelompok ini kemudian terpecah menjadi dua Ada yang bergabung dengan JAD, maupun ISIS dan ada yang tidak mau bergabung atau berbaiat. Sblumnya sudah ada enam orang yang terpisah dari kelompok ini yang sudah ditangkap antara lain; Said Laisow alias Aco, Faisal Tatawalat, Muflik Kiromo, Ardian Litiloly, Agus Sunyoto alias Abdul Wahab dan Ai, Jumalang. Mereka-mereka itu dipimpin oleh Nazarudin Mochtar Alias Abugar yang juga sudah ditangkap Polisi karena keterlibatannya dengan kasus bom di Jalan Thamrin, 14 Januari 2016 lalu. 17 anggota Mujahidin maluku yang mendeklarasikan diri tidak menganut paham radikalisme ini tinggal menyebar di Pulau Ambon, diantaranya di Waiheru, Kecamatan Baguala, kompleks STAIN, Galunggung, Batumerah dan Jalan Baru, Kecamatan Sirimau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *