Mencoblos Dobel, La Denang Terancam Hukuman 3 Tahun

Ambon –Berita Demokrasi Maluku. Meski menggunakan hak pilih saat hajatan  pesta demokrasi sudah menjadi kewajiban  sebagai   Warga Negara, namun  jika mencoblos melebihi dari  ketentuan undang –undang  maka akan bisa menimbulkan  konsekuensi   hukum.

Hal ini dialami  oleh La  Denang Wabula, warga  Desa   Jikumerasa, Kecamatan Liliane, Kabupaten Buru, yang kedapatan melakukan pencoblosan sebanyak dua kali saat  pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada ) serentak  15 februari  lalu .

Menurut pengakuan   La Denang, saat memberikan kesaksian di pengadilan Negeri Ambon, Senin(13/3) lalu, dirinya  mendapat undangan untuk melakukan pemilihan  sebanyak dua kali, yakni undangan pertama diberikan langsung kepadanya  saat pagi hari,  dengan nama yang tertera pada formulir C6 tersebut   La Dena Wabula, semantara undangan satunya atas nama La Denang  Wabula diberikan saat malam hari, yang diterima oleh  isterinya, bersama  undangan tersebut juga diberikan  tiga undangan lainnya   yaitu undangan untuk   isteri, adik serta kakaknya. Menurut pengakuan terdakwa  saat undangan tersebut di berikan  Ia  sedang  tidak berada  di rumah.

Pada hari  pecoblosan,  (15/2) menurut keterangan La Denang di hari itu  pria yang mamiliki dua anak itu  mencoblos  pertama  kalinya  pada pukul, 09.00 WIT   di TPS I di sekolah SMPN 20   Jikumerasa, letak TPS tersebut cukup   jauh dari rumahnya, yang kedua kali  barulah   Ia menyalurkan hak demokrasinya  di TPS III yang terletak di Balai Desa  yang dekat dengan rumahnya  pada  pukul 11.00 WIT

Adapun alasan yang diutarakan   terdakwa untuk   melakukan pencoblosan  sebanyak  dua kali adalah simpel, yakni hanya memenuhi undangan pemilihan.

Dalam sidang yang mengendakan mendengar keterangan terdakwa dan  saksi  pada Senin (13/3) itu  menghadirkan  tiga  orang saksi   dari  Panwas  Kecamatan Liliani yakni  masing –masing  Anshar Barges, Syamsul Masiri dan Marjuk Kabau.

Menurut mereka, ulah La Denang ini diketahui setelah laporan masyarakat  dan setelah di  krocek  pada undangan, akhirnya baru diketahui bahwa terdakwa telah melanggara Undang- Undang   Pilkada, selaian  ketiga saksi tersebut, pada sidang hari itu juga dihadirkan  dua orang saksi dari  salah satu pasangan calon kandidat  yang  sedang bertarung di Pilkada Buru 2017.

Sidang hari itu dipimpin oleh hakim ketua, Syamsudin La Hasan SH MH, didampingi oleh hakim anggota masing –masing Philip Pangalila SH MH dan Felix Ronny Wuisan SH MH ,sementara  Tim Jaksa Penuntut Umum  terdiri dari  Sudarmono Tuhulele dan Karel Sampe.

Atas pelanggaran yang dilakukan oleh La Denang Wabula  maka Ia  terancam dituntut melanggar Undang- Undang Pemilu  pasal 178 B dengan  ancaman hukuman  minimal 3tahun, maksimal 8 tahun.(D-3)           

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *