Kemana 3,15 M Dana Disdukcapil SBT Mengalir…?

Kadis   dan Kasubang Akui,  Utang  Hanya   Rp 206 Juta  dan Rp. 400 Juta

Ambon – Berita Demokrasi Maluku. Kasus korupsi di Dinas Kependudukan  dan Catatan Sipil ,  Kabupaten  SBT,    di tahun  anggaran  2013  senilai Rp3,89 Miliar yang peruntukan  untuk membiayai sejumlah program kegiatan diantaranya,  kegiatan program pelayanan administrasi perkantoran senilai Rp405 juta, peningkatan sarana dan prasarana aparatur Rp102,9 juta, dan peningkatan kapasitas sumber daya aparatur Rp150 juta lebih. program peningkatan pengembangan sistem pelaporan pencapaian kinerja dan keuangan, penyusunan laporan keuangan semester, dan penyusunan keuangan akhir tahun senilai Rp72,6 juta, serta program penataan administrasi kependudukan sebesar Rp3,41 Miliar.
Kasus yang  merugikan Negara sebesar  Rp3,15 Miliar tersebut , di tahun 2013  ada pencairan dana  sebesar  Rp 2,36  Milyar  yang seharusnya  di peruntukan  bagi biaya  perjalanan Dinas  23 orang pegawai,   namun  kegiatan  tersebut tidak dilaksanakan  sehingga  proyek tersebut fiktif .

Dalam sidang yang berlangsung   di PN Ambon pada, Selasa  (2/5)  dengan agenda mendengar keterangan saksi, menghadirkan saksi mahkota   Mantan Kadisduk Capil SBT, Abdul Rahman Wailissa  dengan terdakwa  Kesubag Keuangan,  Bastaman Rumata .

Sidang yang  dipimpin oleh  Majelis Hakim yang diketuai oleh , Christina Tetelepta didampingi Samsidar Nawawi dan Hery Leliantono . Wailissa hanya mengaku  memiliki hutang   kepada  terdakwa   sebesar  Rp 206 Juta untuk  kepentingan pribadi.

Menurut keterangan Wailissa, saat  itu Ia  meminta  Rumata (Kasubang  Keuangan)  untuk mencari orang untuk di pinjamkam uang  senilai Rp 206 juta ..  belakangan  diketahui   bahwa Uang  yang dipinjamkan   dari pihak ketiga  sebesar  20%  adalah untuk membayar   utang pribadi Wailissa.

Dalam keterangannya,  Wailissa juga menyatakan, bahwa ada  pencairan dana di dinasnya yang tidak sesuai mekanisme , karena  SPP dan SPMnya  tidak ditandatangani olehnya ,  karean itu   Wailissa menyatakan  Rumata  telah memalsukan tanda tangannya,

Sebagai Saksi mahkota  Dia juga    mengakui ada pencairan dana sebanyak  dua kali, yang tidak  ditandatanganinya  sebesar Rp1,6 M, sementara  terdakwa Bastaman  Rumata menyatakan , Hutangnya hanya Rp 400 juta lebih.

Ketika kesaksian ini  dikroscek ke Terdakwa  (Bustaman  Rumata ). Rumata menyatakan  hutang  saksi   telah dilunasi , secara rinci  Rumata menyatakan  uang  yang terpakai  untuk membayar utang adalah,  utang  pribadi  Wailissa  sebesar Rp 300 juta, ditambah  bunga 20 % perbulan  menjadi  Rp 786 juta . sementara  utang   kantor sebesar Rp 2 Milyar.

Sidang Kasus SPPD Fiktif di  kabupaten  SBT ini akan di lanjutkan  Minggu depan  Selasa  (9/5)   dengan  agenda pembacaan tuntutan.(D-3)

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *