Dokumen Soil dan Topografi Nihil, Anggaran Cair 100%

Sidang  Korupsi Study Kelayakan  Bandara Arara

Ambon – Berita Demokrasi Maluku. Sidang lanjutan  kasus korupsi study kelayakan Bandara Arara di tahun 2015  yang menelan anggaran  Rp  800  juta yang digelar  DI PN Ambon  pada  Rabu (17/ 5),menghadirkan saksi mahkota,   Pejabat Pelaksana  Teknis  Kegitan (PPTK), Jhon Rante  atas  terdakwa  Direktur PT Seal Indonesia,  Wibisono Budi Santoso (Santo) dan pekerja lepas  pembuat dokumen  study kelayakan ,  Endang  Saptawati.

Dalam  sidang  yang  mengagendakan  mendengar  keterangan  saksi  tersebut,  Rante  mengakui  bahwa, meski  pencairan  anggaran  untuk  kegiatan  itu  sudah 100 %,  tetapi  dokumen  study kelayakan belum lengkap.

Menurutnya , dokumen  yang  masih  kurang  adalah   dokumen  mengenai  survey  Soil dan Topografi dari lokasi  yang  akan  dibangun  Bandara  di  Desa Arara  tersebut. “dokumen  yang  tidak  lengkap  itu   terdapat  pada  laporan  tahap  kedua” ungkap Rante .

Dari data yang di himpun,  diketahui  bahwa   ada  empat  tahapan   dalam   pembuatan  laporan study kelayakan Bandara  itu , dan  jumlah ini  disesuaikan dengan tahapan/termin pencairan dana untuk pekerjaan  tersebut yakni 4 kali juga.

Dalam sidang yang dipimpin oleh Majelis Ketua, Jimmy Wally,didanpingi oleh Syamsidar Nawawi dan  Herry Leliantono  sebagai  hakim  anggota,  saksi  mengakui  untuk  mengetahui  kemajuan/Progress  dari  pekerjaan  Study Kelayakan   Bandara  yang  semula direncanakan dibangun  di Kecamatan  Seram Utara itu hanya  dari Laporan-Laporan  pentahapan   yang  dikirimkan  oleh  kontraktor  pemenang tender yakni  PT Benatin  Surya Citra milik  Benny Peng Song , yang  belakangan pekerjaan  ini dialihkan  ke PT Seal   Indonesia Milik Wibisono Budi Santoso (Santo)   kepada  pihaknya. selaku PPTK di Dishub Maluku .tanpa  saksi  terlibat  dalam  pengawasan  dari survey yang  dilakukan  kontraktor  dilapangan.

Saksi juga mengaku.  hanya  terlibat dalam  pra survey dengan mengutus wakil PPTK, bersama –sama dengan  pihak kontarktor  untuk turun  ke lokasi pada awalnya.

Belakangan. diduga  kuat   pihak kontraktor  melakukan survey abal-abal ataupun   tidak melakukan survey sama sekali  di lapangan   pasalnya   data  yang  terdapat   dalam  laporan  dokumen  study kelayakan   adalah  data  sekunder,  bukan  data  primer   yang  berasal  dari  intansi  yang  berwewenang atau  yang  kompeten. untuk memulai  pekerjaan tersebut.

Untuk kasus  ini berdasarkan hasil  pemeriksaan  BPKP   perwakilan Maluku  terjadi  kerugian  negara    senilai Rp 767 Juta rupiah .

Mantan  Kabid  Perhubungan  Udara Provinsi Maluku ini juga mengungkapkan, selama  proses pengerjaan  dirinya   lebih banyak  berkoordinasi  dengan   terdakwa   Endang Saptawati   lewat saluran  telepon,   pasalnya  menerut saksi,  terdakwa Endanglah  yang  mengetahui   persoalan teknisnya.

Dalam sidang  berlangsung di siang tadi ,   saksi  juga  mengakui  menerima  uang  sebesar  Rp 20  Juta  dari terdakwa mantan Kepala  Dinas Perhubungan Provinsi Maluku, Benny Gasperz  selaku KPA dan PPK   pada bulan Desember 2015,  namun  saksi  kemudian   mengembalikan uang  sejumlah  nominal tersebut  kepada  mantan Kadis   saat  saksi ditahan di Rutan Waiheru.

sementara dokumen laporan baru dilengkapi di tahun 2016(D-3)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *