Variabel Kemiskinan dan Kebahagiaan Berbeda

Ambon, Berita Demokrasi Maluku

Apa yang menjadi polemik selama ini di Maluku bahwa orang Maluku memiliki kebahagiaan 70 % lebih sekalipun Maluku berada pada posisi ke-5 termiskin di Indonesia.
Memang antara kebahagiaan dan kemiskinan terdapat perbedaan, karena untuk mengukur kemiskinan seseorang dan kebahagiaan seseorang indikator maupun variabelnya berbeda demikianm Drs. Dumangar Hutauruk Kepala Badan Pusat Statistik Maluku kepada Berita Demokrasi Maluku.com usai konf pers yang digelar 2
/10/2017).
Menurutnya, kalau untuk menghitung seseorang itu miskin atau tidak maka lebih pada menghitung kecukupan kalori dari orang tersebut yakni minimal asupan kalori yang harus didapat ataupun dimakan adalah : 1.200 kilo kalori per orang perhari sedangkan untuk mengukur tingkat kebahagiaan seseorang, itu di dasarkan pada berbagai faktor diluar makanan yakni keharmonisan rumah tangga, kebutuhan dia akan kecukupan pakaian, kecukupan rekreasi, kecukupan keamanan, kecukupan waktu luang, kecukupan waktu santai, kecukupan waktu menikmati segala fasilitas yang dimilikinya, kecukupan pendidikan, kecukupan kesehatan. “Jadi lebih pada kepuasaan hidup selain makanan,”kata dia pula.
Selanjutnya dia katakan, semua kita harus memahami dengan benar apa itu kemiskinan dan apa itu kebahagiaan.
Kalau memang kecukupan makanan tak mencukupi tapi orang itu merasa bah
Wa dia bahagia dengan apa yang dimilikinya, sekalipun dia dikategorikan miskin maka kita tak punya hak mengatakan bahwa dia tak bahagia, karena
yang merasa bahagia atau tidak adalah dia pribadi bukan yang lain , kata dia pula.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *