TTIC Diharapkan Ikut Meminimalisir Gejolak Harga

Ambon, Berita Demokrasi Maluku

Toko Tani Indonesia Center (TTIC) merupakan sebuah program  dalam rangka ikut meminimalisir gejolak harga yang berakibat terjadinya lnflasi di Provinsi Maluku.

Pencapaian ketahanan pangan masyarakat Maluku merupakan salah satu pilar pembangunan daerah,  maupun nasional yang sangat fundamental bagi kemajuan pembangunan dan kualitas hidup masyarakat.

Perwujudan Ketahanan Pangan masyarakat menempati posisi sentral,  dalam peningkatan produktivitas daerah maupun nasional serta perbaikan taraf hidup masyarakat di daerah ini maupun warga Negara.

Bukan hanya dengan ketersediaan dan kecukupan pangan akan memberikan gizi dengan komposisi cukup bagi peningkatan produktivitas,  akan tetapi juga memberikan dukungan pada peningkatan kualitas hidup dan keberlanjutan Pembangunan di Daerah ini.

Persoalan yang dihadapi dalam pembangunan Pangan adalah petani kita masih dihadapkan pada fluktuasi harga produk komoditas yang dihasilkannya.

Harga komoditas pertanian khusus pangan selalu berfluktuasi terutama saat panen raya, harga jatuh pada titik ekstrem terendah.

Namun akan terjadi sebaliknya harga akan melambung tinggi saat terjadi masa paceklik, konsumen menjadi terkendala oleh daya belinya dalam mengakses pangan dan menyebabkan sebagian masyarakat masuk menjadi kelompok masyarakat rawan pangan,  dan berpotensi menimbulkan keresahan sosial. Fluktuasi harga dan pasokan pangan yang tidak menentu, tidak hanya akan menimbulkan keresahan sosial,  namun lebih jauh akan mempengaruhi kemampuan pengendalian inflasi. Sebagaimana dirilis oleh Bank Indonesia bahwa Pertumbuhan ekonomi Maluku pada triwulan II 2019 diperkirakan berada pada rentang 5,95%- 6,35% (yoy).

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi Maluku pada triwulan II 2019 dari sisi Permintaan akan ditopang oleh komponen Konsumsi Pemerintah, Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB) dan Konsumsi Lembaga Non Profit melayani Rumah Tangga (LNPRT).

Begitu pula Inflasi Provinsi Maluku untuk triwulan II 2019 diperkirakan meningkat namun masih tetap berada dalam kisaran sasaran inflasi Provinsi Maluku 2019 sebesar 3,5t1% (yoy). Inflasi Maluku pada triwulan II 2019 diperkirakan menurun atau berada dalam kisaran 2,93% (yoy) 3,33% (yoy). Peningkatan tekanan inflasi di Maluku pada triwulan II 2019 disebabkan oleh 4 kelompok utama, yaitu kelompok Bahan Makanan, kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau, kelompok Sandang dan kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan.

Pemerintah daerah melalui Tim Pengendali lnflasi Daerah (TPID) telah melakukan upaya-upaya strategis guna menekan laju inflasi dengan Iebih fokus pada bahan pangan strategis yang sering memicu inflasi, salah satunya adalah melalui dinas Ketahanan Pangan yang pada hari ini melounching Toko Tani Indonesia Center.

Memotong Mata Rantai Pemasaran

Pada kesempatan  yang  sama  Plt  Kepala  Dinas   Ketahanan   Pangan   Provinsi   Maluku  Umar Poulhapessy kepada sejumlah wartawan mengemukakan, selain untuk menekan inflasi, pihaknya juga berupaya membantu  petani  untuk  tak  lagi menjual hasil productnya kepada para pedagang pengumpul ataupun membawa langsung ke pasar.

“Jadi  kami  memotong mata rantai pemasaran yang panjang,  dengan  langsung membelinya di tingkat  petani,  dengan  harga  yang  memadai” .  Kalau petani  menjualnya   kepada   pedagang pengumpul harganya dibawah stadart, kadang-kadang petani mengalami kerugian,  karena harga produksi mereka tinggi”

Kalau  TTIC   sudah  memperhitungkan  semua  biaya  produksi  yang dikeluarkan petani dengan demikian petani tak mengalami kerugian. TTIC menjual kepada konsumen juga dengan harga yang terjangkau, sedikit dibawah harga pasar. Adapun  Product yang dijual di TTIC merupakan product y unggulan milik petani  yang sudah bersertifikat diantaranya  sayur-sayuran, buah-buahan, beras product lokal dari Seram Bagian Barat (SBB), telur dan lain-lain, demikian Polhaupessy. (D-02)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *