Maluku Miskin Karena Keadilan tak terdistribusi Secara Baik

Ambon, Berita Demokrasi

Drs. Bitzael Silvester Temmar mantan Bupati MTB dua periode dan mantan anggota DPRD Maluku 2 (dua) periode dalam penyampainan visi-misi di hadapan Muswil Partai Kebangkitan Bangsa di Swissbeel Hotel Jumat (25/8/2017) mengemukakan, kemiskinan yang terjadi di Maluku akibat dari tidak dibaginya  kue pembangunan  tak terdistrubsi secara adil dan merata di 11 kabupaten /kota di Maluku.

Menurutnya, pada tahun anggaran tahun 2016, APBD Maluku yang porsinya   30%  yang dialokasikan   untuk belanja publik, hanya terdistribusi ke beberapa kabupaten/kota. Dananya sudah kecil tak terdistribusi dengan baik, bagaimana Maluku tak miskin.

Semua yang terjadi selama ini di Maluku,  karena para pemimpin salah mengurus Maluku. “Yach salah urus seperti yang tadi saya katakan, kalau dibilang MTB, MBD dan Aru paling miskin di Maluku saat ini, itu akibatnya,  karena  kue pembangunan ke tiga daerah ini,  sangat-sangat kecil dibandingkan ke kabupaten lain.

Walaupun demikian, ketika  saya  memimpin saya sendiri mencari terobosan,  baik ke Jakarta, Surabaya maupun ke Australia,  guna memasarkan berbagai produk MTB.  Kain tenun MTB sudah  dipasarkan ke Surabaya dan Australia,  Jakarta dalam jumlah yang besar.

Kalau apa yang menjadi tema hari ini, mencari pemimpin Maluku yang visioner dan inovatif untuk membawa Maluku keluar dari kemiskinan maka itu benar adanya.

Kalau tak   visoner dan inovatif, tak usah maju untuk Maluku. Persoalan Maluku yang kompleks saat ini butuh seorang pemimpin yang mau mengabdi, bukan untuk mencari tempat bagi krooni-kroni dari pemimpin itu.

Sebagai anak bangsa di Maluku,  kita akan sangat berdosa terutama para pemimpin,  kalau kita tak mempergunakan kekusaan ataupun kesempatan yang Tuhan kasih sebagai pemimpin untuk mengeluarkan daerah ini dari kemiskinan.

Yang paling penting tadi kue pembangunan harus  terdistribusi secara adil dan merata. Kita bangun gugus-gugus Pulau seperti apa yang sudah diterobosi dan ditetapkan oleh yang namanya DR. Almarhum Saleh Latuconsina dan teman-temannya.

Kita patut berterima kasih kepada beliau dengan pikiran yang cemerlang telah membentuk gugus Pulau. Harusnya ini,  dioptimalkan karena dengan gugus pulau,    dapat diidentifikasi,  secara seksama apa penyebab kemiskinan wilayah ini, apa yang mereka butuhkan, apa yang prioritas harus diatasi.

Sekalipun satu provinsi,  kita memiliki daerah dengan karateristik dan kondisi alam yang berbeda Ambon, Lease dan Pulau Buru  punya karateristik dan alam yang hamper mirip, Kepulawan  Aru dan  Kepulawan Kei juga mirip, MTB dan MBD, dan Gugus Pulau Seram. Ini harus benar-benar dibangkitkan kembali.

Menurut Temmar, yang harus diperbaiki pertama,  adalah aparatur pemerintah, mereka ini harus dipersiapkan dengan matang, karena dengan SDM aparatur yang handal, segala sesuatu dapat dikerjakan, reformasi birokrasi,. Birokrasi harus di dudukan, kita sehatkan. Mereka harus  didududkan  sesuai  kompetensi yang dimiliki, jangan orang perikanan,  kita kasih jabatan di dinas pendidikan, orang Satpol  PP kita kasih jabatan  diinvestasi, orang pertanian kita kasih di Infokom dan sebagainya.

Kalau terjadi seperti ini maka,  ini awal kehancuran sistim pemerintahan. Nepotisme, harus diperangi,  selama nepotisme masih bercokol,  maka jangan harap apapun dari pemerintahan seperti ini. Nepotisme bakal menghasilkan kolusi kemudian korupsi.

Jadi intinya untuk melakukan pemberantasan kemiskinan,  benahi dulu pemerintahan yang ada, kalau tidak maka  akan sangat sulit untuk memberantas yang namanya kemiskinan, demikian Temmar, (D-02)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *