Kepemimpinan Mailoa-Thenu Diharapkan Mampu Kembalikan Roh PDI-Perjuangan

Ambon, Berita Demokrasi Maluku
Penetapan Gerald Mailoa-Wenly Thenu dan Ira Nikijuluw sebagai Ketua, Sekretaris dan Bendahara DPC PDI-Perjuangan Kota Ambon dalam Konfercab serentak yang berlangsung tanggal 01 Juli 2019 di Baileo Siwalima Karang Panjang Kota Ambon diharapkan membawa nuansa baru bagi perpolitikan di Kota Ambon.
Sekalipun mendapat reaksi protes dari sejumlah fungsionaris namun keputusan DPP harus dijalankan, karena penetapan komposisi kepengurusan inti tersebut, pasti telah melalui proses dari bawah hingga di DPP.
Ditetapkan mereka sebagai pimpinan partai bukan berarti bersenang-senang dan berleha-leha dengan jabatan mereka, namun sebaliknya, keterpilihan mereka bertiga tentunya merupakan tanggungjawab yang harus diemban yakni bekerja maksimal untuk kepentingan rakyat dan kebesaran partai seperti harapan DPP dimana PDI-Perjuangan harus menjadi partai pelopor.
Artinya menjadi partai yang benar-benar mempelopori dirinya untuk kepentingan rakyat, masyarakat dan bangsa bukan untuk kepentingan pribad, kelompok atau golongan, demikian Plt Ketua PAC Teluk Ambon Paulus Sahupala lewat Hand phone Celularnya Rabu (03/07/2019).
“Harapan beta kepemimpinan Mailoa-Thenu-Nikijuluw lebih baik dari kepemimpinan sebelumnya, artinya, kepemimpinan ini, haruslah mampu mengembalikan apa yang pernah diperoleh PDI-Perjuangan, karena Kota Ambon merupakan basis PDI-Perjuangan.
“Mari sama-sama para kader, simpatisan untuk dapat bersatu, bahu-membahu membangun kembali apa yang pernah di raih, ”ajak Sahupala

Kalau PDI-Perjuangan pada awal-awal reformasi boleh memiliki walikota Ambon selama 2 (dua) periode, memimpin DPRD Kota Ambon selama 3 (tiga) periode, mengirim 2 (dua) kursi ke DPRD Provinsi Maluku selama 3 (tiga) periode.

Hal-hal tersebut diatas harus menjadi bahan perenungan dan evaluasi “Kami tak menyalahkan DPC-DPC sebelumnya namun kenyataan seperti itu”. “Kepemimpinan sebelumnya yakni Jemmi Maatita dan Jafri Taihuttu pada periode pertama 2009-2014 cukup baik namun periode 2014-2019 justru mengalami penurunan”. “Ini harus menjadi catatan penting bagi kepengurusan baru, dimana boleh mengambil hikmah dari apa yang terjadi pada kepemimpinan yang lalu”.

Selanjunya dia katakan, tentu ada banyak faktor yang membuat terjadi penurunan perolehan suara, terutama untuk pileg dan pilwalkot namun yang terpenting adalah nilai kebersamaan dan kegoton-groyongan. mengedepankan kepentingan rakyat datas kepentingan pribadi, kelompok dan golongan
Roh partai harus lah dikembalikan. Tanpa mengembalikanroh kerakyatan , kebersamaan dan kegotong-royongan, Roh PDI-Perjuangan harus dikembalikan tapi kalau tidak maka jangan berharap banyak.

Sekali lagi beta berharap kepemimpinan Mailoa-Thenu-Nikijuluw dapat memahami dan men-jalankan. yang namanya kebersamaan dan kegotongroyongan. Artinya ketika kita di atas. jangan lupa melirik kebawah, selalu dekat kepada yang namanya akar rumput (grasroot).

Sebenarya beta tak perlu mengingatkan. karena kalau kader PDI-Perjuangan pasti memahami roh partai yakni roh kerakyatan dan kegotongroyongan, demikian Sahupala. (Riita.Lekatompessy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *