Gawat .!!! Animo Siswa Asal Leihitu Masuk SMAN3, Terancam Intruksi Mendikbud.

Ambon.Berita Demokrasi Maluku.Intruksi Kementerian Pendidikan Nasional soal Zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2018, meski dianggap baik tetapi juga menyulitkan para siswa untuk melanjutkan ke sekolah yang diinginkan.

Karena dalam realitasnya di Maluku, ada sejumlah siswa yang bertempat tinggal di lokasi yang berlainan dengan lokasi sekolah tetapi mendaftarkan diri ke sekolah tersebut, hal itu disampaikan oleh, Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Ambon, Alexander Roni Tahalele saat ditemui usai acara buka puasa bersama Dinas Pendidikan Maluku, pada Senin, (28/5).
“Yang masalah ini, banyak yang dari luar yang mendaftar di SMAN3, yang dari Maluku Tengah Itu tidak sedikit.” kata Tahalele
Ketua MKKS SMA Kota Ambon ini mengungkapkan, sejumlah siswa yang bertempat tinggal di Kabupaten Maluku Tengah, yakni siswa yang berasal dari daerah Jazirah Leihitu, seperti Alang, Hattu, Leihitu, Mamala Morella,dsbnya.itu banyak yang mendaftarkan diri disekolahnya.
Ketika disinggung mengenai kebijakan untuk mengakomodir para siswa tersebut, Tahalele mengungkapkan, hal itu sulit ditempuh, pasalnya aturan untuk penerimaan siswa sesuai Zonasi tempat tinggal, hanya diterapkan persentase 90:10, dimana 90 persen untuk siswa di dalam zona tempat tinggal, sementara untuk luar Zona hanya dijatahkan 10 persen.
Tahalele berujar , dengan berlakunya sistem Zonasi untuk penentuan sekolah maka praktis sistem “rayon sekolah” yang telah diterapkan sebelumnya tidak berlaku lagi, “Jadi anak itu, walaupun Dia lulusan SMPN 7(Poka) tetapi tetapi dia berdomisili jauh dari Poka, maka Dia tidak mungkin dapat bersekolah di SMAN3 (Poka)”tegas Tahalele .
Tahalele menyatakan, jumlah siswa SMAN3 yang mengikuti Ujian Nasional pada Tahun ajaran 2017/2018 adalah sebanyak, 363 siswa dan keseluruhan siswa tersebut lulus seratus persen.
Dari 363 tersebut 267 ikut Ujian Masuk SNMPTN, dari jumlah tersebut ada 73 siswa yang ikut masuk yang ikut SNMPTN di luar Ambon, hasilnya 46 siswa lolos ke Perguruan Tinggi yang berada di seluruh Indonesia.
Terkait nilai Ujian Nasional yang tidak lagi menjadi penentu kelulusan, Tahalele menyatakan, kecewa dengan keputusan tersebut, pasalnya setelah aturan tersebut diberlakukan kebanyakan Siswa tidak termotivasi lagi untuk meningkatkan prestasinya saat Ujian Nasional.
“Anak-anak sekarang ini , sekolah hanya untuk sekedar lulus, dong seng pernah berpikir bahwa nilai Ujian Nasional itulah yang menentukan masa depan Mereka, karena Nilai UN dipakai untuk keperluan melanjutkan studi dan masuk ke Dunia Kerja” Urai nya.
Bahkan Tahalele menyayangkan, Ujian Nasional yang diselenggarakan berbasis komputer (UNBK )
yang menjamin keaslian dari nilai siswa, tetapi karena nilai UN sudah tidak jadi penentu maka para siswa menjadi kurang termotivasi.
“Sekarang ini sebenarnya UNBK itu sudah bagus, Kita dapat nilai murni tetapi permasalahannya apakah anak -anak mau berusaha ataukah tidak, sejak nilai Ujian Nasional tidak lagi menjadi penentu kelulusan siswa, maka para siswa sudah mulai menganggap enteng, sehingga nilai rata- rata Ujian Nasional sekolah- sekolah mulai menurun” Keluh Tahalele.(D-3)