Engelina : SDM dan Infrastruktur Faktor Utama Berantas Kemiskinan

Ambon, Berita Demokrasi Maluku

Engelina Pattiasina bakal calon gubernur Maluku Jumat (25/8/2017) memaparkan visi-misi di hadapa Musyawarah Pimpinan Daerah (Muswil ) Partai Kebangkitan   Bangsa (PKB) di Swissbeel Hotel.

Usai penyampaian visi misi Engelina yang diwawancarai sejumlah wartawan mengemukakan, dengan tema mencari pemimpin visioner dan inovatif dalam pengentasan kemiskinan Maluku, maka  ada 2 (dua) elemen utama,  yang mestinya diperbaiki oleh pemerintah Maluku yakni : Sumber Daya Manusia (SDM) dan Infrastruktut.

SDM yang ada di pemerintahan Maluku, saat ini mestinya harus memahami benar kemiskinan yang terjadi di Maluku, mampu mengindentifikasi berbagai hal terkait kemiskinan, kemudian baru dicari bagaimana cara mengatasi kemiskinan. Di Maluku ini kemiskinan yang terjadi ini sistemik, jadi sistemnya yang salah. Pemerintah Maluku saat ini belum maksimal,  dalam upaya pemberantasan kemiskinan. APBN maupun APBD tak akan mampu membiayai  kemiskinan baik di Maluku maupun di Indonesia,  karena itu harus dicari sumber-sumber dana yang lain untuk itu, kata Engelina.

“Nah sumber dana yang lain adalah : menggali SDA Maluku yang melimpah

Blok Masela yang saat ini ramai dibicarakan, haruslah menjadi perhatian sungguh pemerintah Maluku untuk mengawal prosesnya.

Kalau saat ini tak dikawal dengan baik maka jangan berharap anak cucu Maluku mendapat apa-apa dari sana.

Pemerintah harus membangun BUMD ataupun menyediakan BUMD yang bakal mengelolan apa yang namanya PI,  dengan profesional. Gas Blok Masela punya kurang lebih 350 turunan,  yang mestinya diolah. Maunya diolah di Maluku, jangan diluar Maluku, kata lulusan Jerman ini

Menurut Engelina, pengoperasian Blok Masela masih 5 (lima) tahun lagi,  karena itu pemimpin saat ini haruslah  meletakkan dasar-dasar yang baik dan benar.

Selain SDM infrastruktur di Maluku harus siap, bukan saja jalan, jembatan , bandara dan sebagainya tapi yang paling penting adalah infrastruktur perikanan. Maluku Memiliki SDA perikanan yang luar biasa . “Nah ini dapat dibangun, bangunnya bukan yang besar-besar tapi yang dibangun adalah kerambah-kerambah, armada-armada penangkapan ikan, nelayan ataupun tenaga kerja perempuan  dilatih bagaimana mengolah hasil tangkapan. Tapi yang paling penting bagun pabrik pengelolaan ikan, Jangan besar-besar. Kecil dulu baru kemudian dikembangkan.

Kalau pemerintah tanggap dan mau, para SDM di Dinas Perikanan dan kelautan dikirim ke Norwegia, belajar perikanan di sana. Norwegia adalah negara dengan pengelolaan perikanan terbaik di dunia.

Pemerintah jangan tunggu saja, apa yang inovasi untuk mencari dan mencari hal yang terbaik guna memdi Maluku.

Harus punya terobosan ke dunia luar, bukan hanya diam di Indonesia saja, atau diam di Maluku saja, cari ter obosan keluar Maluku.

Jangan pemerintah hanya mengurus politik melulu, urus ekonomi rakyat. Politik merupakan alat. “Nah sudah mendapat kekuasaan itu, gunakan sebaik-baiknya untuk kemakmuran rakyat”. Banyak orang yang mau bantu Maluku, banyak negara yang mau bantu Maluku,  karena Maluku ini dikenal dunia. Pada beberapa abad yang lalu,  orang Eropa datang ke Maluku karena rempah-rempahnya. Kalau kita bilang Maluku saja, negara manapun di dunia ini mau bantu.

Cari kerjasama dengan LSM-LSM asing, pasti mereka akan melirik Maluku, apalagi negara-negara  yang pernah menjajah Maluku ataupun Indonesia. Tinggal bagaimana pemerintah punya kemauan untuk menerobosinya ataukah tidak, demikian Engelina. Selain perikanan pariwisata Maluku juga, perlu dibangun, dipromosikan ke dunia luar. Yordania, rajanya langsung mempromosikan sendiri pariwisatanya, padahal negara-negara di Timur Tengah, merupakan daerah yang tak nyaman untuk dikunjungi, namun karena rajanya langsung mempromosikan, maka orang tak ragu datang ke sana. Keindahan Maluku bak surga dunia ini harus dipromosikan, Pokoknya pemerintah harus pro-aktif, jadi agen-agen pariwisata, kata mantan anggota DPR-RI ini (D-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *