Ekspedisi Jalur Rempah

 

Wulandari Ingatkan Kejayaan Maluku Masa Lampau

Ambon, Berita Demokrasi Maluku

Ekspedisi jalur rempah yang dilaksanakan Direktorat Sejarah, Dirjen Kebudayaan RI di Maluku 9-22 Oktober 2017 mengingatkan kita  akan kekayaan dan kejayaan Maluku pada masa lampau, terutama bagi generasi muda Indonesia dan terkhusus generasi muda Maluku,  bahwa pada abad awal dan pertengahan Masehi bangsa Eropa maupun Asia datang ke Maluku karena rempah-rempah  yakni cengkeh dan pala , demikian Direktur Sejarah Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI  Dra. Triana Wulandari dalam konfrensi pers usai membuka ekspedisi jalur rempah Maluku yang berlangsung di Balai Pelestraian Nilai Budaya Maluku di Wailela-Ambon.

Menurutnya, tercatat dalam berita Tiongkok sejak awal Masehi, dinasti-dinasti kekaisaran Tiongkok yakni dinasta Tang, Dinasti Sung, Dinasti Yuan dan Dinasti Ming (Abad 7-13 Masehi) telah menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan di Indonesia. Dalam berita itu sering disebutkan tentang kekayaan rempah-rempah yang diperoleh dari  laut selatan. Rempah di Indonesia dikenal sejak abad ke-7 Masehi . pedagang-pedagang dari Asia Timur, Asia Selatan dan Asia Barat berburu rempah dengan nilai tinggi seperti : cengkeh, pala, bunga pala, kayu cendana, lada, gaharu, kapur barus, dan rempah lainnya.

Kepulauan Maluku dikenal sebagai spice Island (kepulawan rempah) karena menghasilkan cengkeh dan pala dengan kualitas terbaik dunia,  yang diperdagangkan ke Arab, Cina sampai dengan daratan Eropa. Terdapat 4 (empat) sentra penghasil cengkeh di Maluku yakni : Ternate, Tidore, Moti-Makian dan kep di bagian selatan yakni : Ambon, Saparua, Haruku, Nusalaut dan Pulau Seram sedangkan  pala berasal dari   Kepulawan Banda, kata Wulandari.

Rempah-rempah ini diperdagangkan lewat samudera Indonesia, laut tengah hingga ke Eropa, sehingga jalur rempah Indonesia dikenal Eropa melalui Bandar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia.

Berdasarkan itu,  maka Direktorat sejarah dalam upaya menumbuhkan kesadaran tentang kemaritiman nusantara dan membangkitkan imajinasi NKRI sebagai negara kepulawan,  maka dilakukan ekspedisi jalur yang rempah yang mengikutkan 100 mahasiswa dari seluruh provinsi di Indonesia masing-masing provinsi 2 (dua) orang dan provinsi Maluku 35 orang.

Para mahasiswa  akan mengobservasi, meneliti tempat-tempat yang merupakan bagian dari simpul-simpul sejarah maritim, yang membentuk pelayaran nusantara, kata dia pula.

“Jadi para mahasisw akan tinggal di 5 (desa) pada  5 (lima) pulau di Maluku berbaur dengan masyarakat desa, memhami adat- budaya maupun kehidupan masyarakat kemudian akan membuat lapopran dan mengeksposenya,,  dalam pameran yang dilaksanakan pada bulan November 2017.

Selain itu mereka juga akan merekomendasi

kan kepada pemerintah baik Maluku,   maupun pemerintah pusat,  apa yang mesti  dilakukan untuk saat ini,  dan masa yang akan datang bagi daerah Maluku. “Jadi tidak sekedar memahami sejarahnya,  tapi juga memberikan masukan apa yang mesti pemerintah lakukan untuk daerah-daerah yang menjadi jalur rempah, kata Wulandari pula.

Dengan mengambil tema : Sejarah jalur rempah simpul budaya maritim dan agraris, mencoba mengingatkan kembali keterkaitan antara kekayaan sumberdaya agraris dan sumber daya maritim melalui pelayaran jalur rempah dunia.

Kegiatan ini merupakan pilot project dan akan diteruskan pada tahun-tahun mendatang. Mendampingi Direktur Sejarah, Kepala Badan Pelestraian Nilai Budaya Maluku Drs. Rusli Manoreb. (D-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *